Sentimen Agama Dalam Aksi Pemboikotan Prancis

Sentimen Agama Dalam Aksi Pemboikotan Prancis

Akhir-akhir ini kalian pasti sering mendengar tentang aksi pemboikotan produk-produk asal Prancis yang terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia. Bahkan, tidak cukup dibahas dalam berita biasa kini media-media yang biasanya membahas seputar ekonomi juga mulai memberitakan aksi tersebut dan mulai menganalisis dampaknya bagi perekonomian Perancis. Sebagai informasi, Prancis merupakan salah satu pemain utama dalam bidang penerbangan, persenjataan dan juga energi sehingga jika aksi protes terus berlangsung maka hal tersebut akan membuatnya kehilangan peluang untuk memperbaiki kondisi ekonomi negara yang sedang lesu akibat pandemi Covid-19.

Pidato dan karikatur kontreversial

Sentimen Agama Dalam Aksi Pemboikotan Prancis

Menurut berbagai sumber, aksi pemboikotan tersebut sebenarnya berasal dari pidato kenegaraan bernuansa sentimen agama yang dilakukan oleh presiden Prancis Emmanuel Macron pasca diterbitkannya karikatur nabi Muhammad SAW oleh majalah mingguan asal Prancis Charlie Hebdo. Pernyataan presiden Macron yang dinilai membela perbuatan majalah tersebut serta ucapannya yang menganggap umat Islam di Prancis “membahayakan” sehingga harus diawasi lebih ketat dengan undang-undang yang menangkal separatisme Islam dianggap provokatif dan menghina umat muslim di seluruh dunia. Selain itu, Macron juga menganggap jika agama Islam merupakan agama yang sedang dilanda krisis dan berusaha menerapkan peraturan yang lebih ketat untuk umat Islam.

Setelah pidato resminya disiarkan keseluruh dunia, berbagai kecaman pun berdatangan terutama dari pemimpin negara-negara Islam atau negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia. Bahkan, pemimpin negara Turki sempat menyebutkan jika Macron tidak bisa memahami kebebasan beragama warganya sendiri serta menyarankannya untuk menjalani perawatan mental. Suatu pernyataan yang bisa dikatakan cukup kasar dari seorang kepala negara. Akibat pernyataan tersebut, pemerintah Prancis akhirnya mengambil tindakan balasan.

Imbas dari tindakan tersebut ternyata menghasilkan konflik yang lebih besar lagi dengan ditariknya duta besar Perancis dari Turki serta Turki yang kemudian menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk asal Prancis. Selain Turki, kini berbagai negara di Timur Tengah juga mulai melakukan aksi serupa dengan menarik berbagai produk asal Prancis dari negara mereka. Sementara itu, meski tidak atau belum ada langkah pemboikotan secara besar-besaran, di berbagai negara dengan penduduk mayoritas muslim mulai muncul aksi demonstrasi yang mengkritik pidato Macron.

Hal ini sebenarnya cukup mudah dipahami. Selama ini, umat Islam terutama yang berada di Eropa kerap mendapat perlakukan diskriminatif karena agama yang dianutnya. Selain itu, berbagai citra dan pandangan negatif juga kerap diterima oleh umat Islam di negara-negara tersebut. Oleh sebab itu, pidato  presiden Macron dinilai semakin menyudutkan umat Islam dan akan memperparah Islamophobia di Prancis dan di negara-negara lain.

Protes umat Islam tanah air

Aksi Pemboikotan Prancis

Di Indonesia sendiri, meski beritanya tidak terlalu masif tapi ada beberapa kalangan yang ikut serta memboikot produk-produk asal Prancis atau produk dari perusahaan asal Prancis. Tidak cukup sampai disitu bahkan gerakan untuk mengajak masyarakat memboikot produk-produk Prancis juga sudah mulai bertebaran di media sosial. Yang terbaru bahkan diperlihatkan deretan produk yang memiliki kaitan dengan perusahaan asal Prancis tampak diturunkan dari rak. Meskipun tindakan tersebut belum terlalu viral tapi jika situasi semakin bertambah buruk bukan tidak mungkin jika aksi tersebut semakin meluas di kalangan masyarakat.  

Lalu, dengan semua aksi penolakan dan boikot tersebut apakah serta merta akan membuat presiden Prancis meminta maaf? Sayangnya hal tersebut belum dapat dipastikan secara langsung. Seperti yang diketahui, Prancis merupakan salah satu negara yang sangat menjunjung kebebasan berpendapat sehingga aksi penggambaran nabi yang dianggap sangat menghina umat Islam tersebut tidak melanggar hukum apapun di Prancis bahkan Macron dengan tegas menjawab akan melindungi kebebasan berpendapat dan berekspresi di negara tersebut.

Sedangkan dari segi ekonomi aksi pemboikotan tersebut kemungkinan besar memang memiliki pengaruh pada perekonomian negara tersebut. Menurut beberapa sumber, harga saham berbagai perusahaan besar di Prancis mengalami penurunan yang cukup besar akibat pernyataan presiden macron serta aksi boikot di berbagai negara terutama di Turki. Perlu kalian ketahui jika sebagian besar pasar mobil asal Prancis berada di negara tersebut sehingga jika aksi boikot terus dilanjutkan maka hal tersebut berpotensi menyebabkan kerugian cukup besar untuk Prancis.

Sementara untuk di Indonesia, aksi pemboikotan dinilai tidak akan memberikan efek yang terlalu serius pada ekonomi Prancis. Sejauh ini nilai ekspor Prancis ke Indonesia masih terbilang kecil dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Selain itu, keberadaan perusahaan asal Prancis di Indonesia juga terbilang sedikit sehingga tidak akan terlalu berpengaruh. Bahkan, beberapa ahli menilai jika hal ini terus berlanjut maka akan menjadi kerugian tersendiri bagi Indonesia karena ada beberapa produk lokal yang sangat sering digunakan namun sebagian saham perusahaan dimiliki oleh perusahaan asal Prancis. Oleh sebab itu, banyak yang masih skeptis tentang efek aksi pemboikotan produk Prancis di tanah air.