Charlie Hebdo, Majalah Satir Yang Kontroversial

Charlie Hebdo, Majalah Satir Yang Kontroversial

Baru-baru ini media dan masyarakat dunia khususnya umat Islam tengah menyoroti penerbitan karikatur nabi Muhammad yang (lagi-lagi) dilakukan oleh majalah satir asal Prancis Charlie Hebdo. Seperti yang kita ketahui, ini bukan kali pertama majalah tersebut menampilkan hal serupa dan memantik kemarahan masyarakat Islam di seluruh dunia. Namun, tampaknya majalah tersebut masih melakukan hal serupa meski dikecam oleh beberapa pemimpin dunia khususnya negara-negara mayoritas Islam.

Mengenal Charlie Hebdo

Charlie Hebdo, Majalah Satir Yang Kontroversial

Majalah Charlie Hebdo atau yang dalam Bahasa Inggris disebut dengan Charlie weekly sebenarnya merupakan sebuah majalah yang menampilkan berbagai kartun, karikatur serta lelucon tentang berbagai tokoh dan topik. Majalah ini sebenarnya sudah cukup lama berdiri namun sempat berganti nama beberapa kali akibat beberapa alasan tertentu. Sayangnya majalah tersebut berisi berbagai karikatur dan satir tapi Charlie Hebdo dikenal memiliki reputasi yang kurang baik terutama di mata umat Islam.

Jika kalian masih ingat, pada tahun 2007 lalu, majalah ini juga sempat menerbitkan ulang kartun nabi Muhammad SAW dengan narasi yang dianggap menghina dan melecehkan. Hal itu disebabkan karena menampilkan karikatur nabi Muhammad SAW yang dalam pandangan Islam tidak boleh digambarkan dalam bentuk apapun. Hal itu lantas menimbulkan kemarahan serta protes dari umat Islam diseluruh dunia. Bahkan di dalam negeri sendiri, komunitas islam di Prancis sempat menuntut majalah tersebut ke pengadilan atas dasar tuduhan kebencian berbau rasial

Memang jika dilihat dari narasi karikatur tersebut dan reputasi Charlie Hebdo yang terkenal anarkis dan anti terhadap agama membuat berbagai pihak berpendapat bahwa tindakan yang dilakukan majalah tersebut mengandung unsur rasisme. Akan tetapi, meskipun telah berkali-kali diprotes oleh umat Islam tapi tetap saja majalah tersebut melakukan hal yang sama tidak hanya pada Islam tapi juga terhadap agama lain seperti Katolik dan Yudaisme.

Sayangnya, meski diprotes berkali-kali pun redaksi majalah mingguan tersebut justru terlihat semakin aktif menerbitkan karya-karya yang berkaitan dengan karikatur nabi Muhammad SAW. Akibatnya, hal tersebut memicu aksi serangan pada tahun 2015 lalu yang menewaskan belasan orang termasuk salah satu pejabat tinggi majalah tersebut. Sayangnya, meski sempat mendapatkan serangan tapi pihak majalah tersebut sepertinya tidak serta merta membuatnya berhenti membuat hal-hal yang berbau kontroversial.

Pandangan masyarakat Prancis terhadap sekularisme

Majalah Satir Yang Kontroversial

Meskipun tradisi penggunaan satir sebagai humor sudah umum dilakukan di Prancis. Tapi tindakannya yang menggunakan tokoh suci umat beragama kerap dipandang sebagai tindakan provokatif yang dibalut dengan nama kebebasan berbicara dan berekspresi. Dalam sejarah Prancis sendiri, satir memang kerap digunakan oleh berbagai seniman, media dan publik sebagai humor sekaligus cibiran terhadap berbagai tokoh pemimpin dunia, selebritis dan sejarah. Akan tetapi, tindakan yang dilakukan oleh Charlie Hebdo ini dianggap sudah melewati batas dan tidak bisa dikategorikan sebagai humor lagi.

Sayangnya, meski karya-karya majalah tersebut sering terlihat kontroversial dan provokatif tapi hal tersebut sama sekali tidak melanggar hukum di Prancis. Selain terkenal dengan aturan sekularismenya yang sangat ketat, Prancis sendiri juga sangat menjunjung kebebasan berbicara dan berekspresi sehingga karikatur nabi yang ditampilkan majalah tersebut diperbolehkan karena dianggap sebagai kebebasan berpendapat.

Meskipun negara Prancis adalah salah satu negara dengan peraturan sekuler paling ketat di dunia, tapi menurut beberapa sumber sebenarnya masyarakat Prancis sendiri tidak terlalu nyaman dengan hal tersebut. Semakin banyak masyarakat Prancis yang kurang menyukai argument soal sekularisme, kebebasan berpendapat serta berekspresi termasuk topik penerbitan karikatur nabi yang dihormati dalam agama Islam.

Dalam dunia pendidikan sendiri, banyak guru, tenaga kependidikan dan siswa di Prancis yang berpendapat jika apa yang dilakukan oleh majalah Charlie Hebdo sama sekali tidak bisa diterima dan salah. Meskipun dinilai sebagai kebebasan berpendapat tapi banyak yang berpendapat jika seorang nabi sangat tidak diperbolehkan untuk digambarkan dengan cara-cara yang hina seperti yang dilakukan oleh majalah tersebut.

Hal ini memang bisa dipahami mengingat apa yang dilakukan oleh Charlie Hebdo berpotensi untuk menjadi bahan stereotipe dan diskriminasi terhadap umat muslim di seluruh dunia termasuk di Prancis. Padahal, menurut pernyataan presiden Macron sendiri jumlah penduduk muslim di Prancis cukup banyak yaitu diperkirakan mencapai 6 juta orang atau bisa dikatakan sebagai yang terbesar di daerah Eropa Barat.

Masyarakat muslim sendiri sebenarnya kerap menjadi korban rasisme dan stigma negatif dari masyarakat Prancis yang terkenal sekuler. Komunitas muslim Prancis sering mendapat pandangan miring terutama saat ISIS masih aktif dan diberitakan oleh berbagai media setempat. Citra separatis juga kerap disematkan kepada komunitas muslim Prancis terutama yang berasal dari kalangan imigran.

Kedatangan imigran di Prancis kerap dipandang sebagai sebuah bentuk ancaman terhadap identitas sekuler Prancis sehingga sering menimbulkan gelombang xenofobia di masyarakat. Hal inilah yang kerap dituding menjadi faktor utama tindakan rasis dan marjinalisasi kelompok-kelompok minoritas oleh berbagai media termasuk majalah Charlie Hebdo.