Islam Dan Sekularisme di Prancis Setelah Pidato Macron

Islam Dan Sekularisme di Prancis Setelah Pidato Macron

Seperti yang telah diketahui masyarakat umum, Prancis merupakan salah satu negara dengan peraturan sekularisme paling ketat tidak hanya di Eropa tapi juga di seluruh dunia. Pemerintahan Prancis dengan tegas menolak dan memisahkan aturan keagamaan dalam sistem pemerintahannya. Meskipun begitu, sebenarnya masih cukup banyak masyarakat Prancis sendiri yang memiliki agama dan terkenal cukup religious. Meskipun jumlahnya sedikit tapi banyak pemeluk agama khususnya Islam di Prancis yang mencoba hidup berdampingan dengan aturan sekuler negara tersebut.

Mengenal sekularisme di Prancis

Islam Dan Sekularisme di Prancis Setelah Pidato Macron

Sekularisme di Prancis tidak lahir secara tiba-tiba. Paham ini dasari oleh sejarah kelam negara tersebut dengan gereja yang justru kehadirannya semakin membebani masyarakat yang saat itu sedang mengalami krisis. Atas dasar itulah kenapa Prancis akhirnya memilih untuk memisahkan agama dengan pemerintahan yaitu untuk menghindari sejarah yang pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun Prancis menjadikan sekularisme (laïcité) sebagai  identitas negaranya tapi hal tersebut tidak menjadikan negara tersebut anti terhadap agama. Setiap warga Prancis berhak untuk menganut agama apapun namun mereka juga berhak untuk tidak memiliki agama. Semua pilihan tersebut dijamin mendapat perlindungan dari negara. Namun, dalam ruang-ruang publik seperti di sekolah negeri, kantor pemerintahan dan sebagainya semua simbol-simbol keagamaan dilarang dikenakan. Berbagai simbol keagamaan yang dimaksud contohnya adalah hijab, burqa, cadar, salib dan juga rosario.

Sekularisme di Prancis pada awalnya dimaksudkan agar semua warga mendapat perlakuan yang adil dan setara di mata negara sehingga tidak ada diskriminasi berlatar belakang agama. Namun, pada kenyataanya sekularisme di Prancis justru dipandang sebagai agama negara yang berpotensi menyerang hak-hak pribadi warganya. Salah satu yang paling terkena dampak dari sistem tersebut biasanya adalah agama Islam yang selama ini banyak dianut oleh imigran dan kerap mendapat tudingan miring.

Sebagai salah satu minoritas, penganut Islam di Prancis jumlahnya terbilang lumayan yaitu sekitar 6 juta orang. Data tersebut sebenarnya juga tidak terlalu jelas sumbernya karena pemerintah Prancis sendiri tidak memiliki data resmi jumlah penganut Islam di Prancis. Tapi, banyak pihak meyakini jika jumlah pemeluk Islam di Prancis merupakan yang terbesar di Eropa Barat.

Dampak pernyataan presiden Macron

Prancis Setelah Pidato Macron

Menurut beberapa sumber, sebenarnya banyak umat Islam yang mencoba berbaur dan hidup berdampingan dengan berbagai aturan sekuler di negara tersebut. Meskipun hal tersebut cukup sulit terutama jika harus berada di sekolah, rumah sakit pemerintah dan sebagainya. Tapi, tetap ada yang mampu menyeimbangkannya dengan baik.

Akan tetapi, hal tersebut tidak serta merta membuat kehidupan komunitas Islam di Prancis tenang. Seiring dengan meningkatnya sentimen rasial dan keagamaan di Prancis akibat keberadaan imigran membuat komunitas Islam kerap mendapat tudingan dan stereotipe negatif. Bahkan , tidak jarang umat Islam Prancis menjadi korban tindakan rasisme di negara tersebut.

Hal paling baru dan tengah gencar diberitakan diberbagai media di seluruh dunia adalah tentang penerbitan karikatur nabi Muhammad SAW oleh majalah mingguan Charlie Hebdo serta pernyataan kontroversial Presiden Prancis tentang Islam yang dinilai menghina dan menyinggung. Meskipun sebenarnya penerbitan karikatur tersebut bukanlah hal yang pertama tapi pernyataan presiden Prancis tersebut dinilai semakin memojokan umat Islam terutama umat Islam Prancis.

Menurut berbagai sumber, pernyataan presiden Prancis yang menyatakan jika muslim Prancis bisa berpotensi membentuk masyarakat tandingan serta ucapannya yang dinilai menyamakan Islam dengan tindakan separatis tidak hanya menimbulkan protes di dalam negeri saja tapi juga menjalar hingga ke negara-negara lain terutama Turki dan negara-negara Timur Tengah.

Tidak berhenti sampai disitu, Presiden Macron selaku pemimpin Prancis juga tidak menunjukan sikap santun dan menyesal atas pidatonya yang dinilai menyinggung perasaan umat Islam diseluruh dunia. Maka dari itu, berbagai negara juga mulai mengecam perkataan presiden Prancis termasuk Indonesia melalui pernyataan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

Buntut dari pernyataan kontroversial tersebut ternyata mulai menjalar ke bidang ekonomi. Negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Turki dan Qatar kompak memboikot produk-produk asal Prancis mulai dari makanan, minuman, fashion hingga otomotif. Meskipun tindakan tersebut mulai gencar dilakukan di negara-negara Timur Tengah tapi tampaknya tindakan serupa mulai berkembang besar di tanah air.

Sejauh ini memang ada beberapa kelompok masyarakat yang memboikot dan membakar produk-produk asal Prancis serta melakukan berbagai aksi demo menentang pernyataan presiden Macron. Akan tetapi, jumlahnya masih terbilang kecil dan sebagian besar masih terpusat di Pulau jawa. Sementara itu, di Prancis sendiri banyak komunitas Islam yang kecewa dan memprotes pernyataan Macron. Mengingat hubungan ekonomi antara Prancis dengan negara-negara mayoritas berpenduduk muslim maka bukan tidak mungkin jika masalah tersebut akan semakin bertambah rumit. Di satu sisi, presiden prancis tetap bersikukuh untuk mempertahankan sekularisme dan argumennya namun disisi lain aksi boikot tersebut telah membuat berbagai saham perusahan terkemuka prancis turun beberapa persen.