Kenapa Konflik Keagamaan Semakin Sering Terjadi?

Kenapa Konflik Keagamaan Semakin Sering Terjadi?

Baru-baru ini dunia dikejutkan dengan adanya aksi teror dan penyerangan yang terjadi di Prancis. Setelah sebelumnya terjadi kasus pembunuhan terhadap seorang guru sekolah di Prancis akibat karikatur nabi di majalah mingguan Charlie Hebdo. Lalu terjadi serangan teror di Wina, Austria yang memakan korban 4 orang. Melihat berbagai kasus yang terjadi di luar sana tentu membuat Anda semakin bertanya-tanya. Kenapa teror dan konflik atas dasar agama semakin sering terjadi?

Jika kalian melihat lebih lanjut sebenarnya kekerasan berlatar belakang agama juga cukup sering terjadi di tanah air. Namun untungnya untuk saat ini kondisi sudah semakin bisa dikendalikan sehingga sudah cukup lama tidak ada kejadian teror di tanah air. Meskipun begitu, kalian masih harus waspada terhadap potensi konflik berlatar belakang agama yang bisa muncul kapan saja.

Era internet yang rentan konflik keagamaan

Kenapa Konflik Keagamaan Semakin Sering Terjadi?

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin masif, akses terhadap berbagai informasi sudah semakin terbuka dan mudah diperoleh. Selain itu, keberadaan media sosial yang saat ini memegang peranan penting di kehidupan masyarakat urban juga semakin gampang diakses oleh siapapun. Hal ini membuat masyarakat semakin melek informasi dan situasi yang terjadi, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri.

Sayangnya, hal tersebut tidak selalu menimbulkan hal yang positif. Keberadaan berita-berita hoax, provokatif dan sejenisnya mulai marak berkeliaran baik di portal-portal berita maupun di media sosial. Jika kalian tidak berhati-hati dalam menyaring berita buka tidak mungkin kalian akan termakan berita palsu dan menyesatkan. Akibatnya, hal tersebut bisa memicu konflik jangka panjang terutama yang ada kaitannya dengan agama.

Perlu dipahami jika masalah agama masih menjadi permasalahan yang cukup sensitif di berbagai negara termasuk di Indonesia. Permasalahan yang cukup sederhana bisa saja berubah menjadi konflik berkepanjangan terutama jika sudah muncul di berbagi media online. Kemunculan berbagi berita menyesatkan akan semakin membingungkan masyarakat baik yang berkaitan dengan konflik maupun masyarakat biasa.

Sebagai contoh, kalian bisa melihat aksi teror yang terjadi di Eropa terutama Prancis dan Austria baru-baru ini serta pidato presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap menghina Islam dan memicu stigma terhadap umat Islam di seluruh dunia. Meskipun hal tersebut terjadi di Prancis tapi berita tersebut bisa dengan mudah diakses orang-orang di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Hasilnya? Kalian bisa melihat sendiri berbagai aksi protes serta boikot produk-produk Prancis yang terjadi  di berbagai penjuru dunia terutama di Turki dan negara-negara Timur Tengah. Tidak hanya sampai disitu, berbagai teror yang terjadi di suatu negara bisa saja merambat ke negara-negara lain karena pemberitaan yang cukup masif. Oleh karena itu, penyampaian berita secara berimbang serta pemberantasan berita-berita bohong dan provokatif harus terus dilakukan.

Sentimen rasial serta keagamaan yang semakin berkembang

Konflik Keagamaan

Di luar negeri terutama negara-negara maju seperti di Eropa, sentimen rasial dan keagamaan semakin terasa terutama sejak gelombang kedatangan imigran ke Eropa yang kebanyakan berasal dari negara-negara Timur Tengah dan sedang dilanda konflik seperti Suriah. Sayangnya, kedatangan para imigran tersebut kerap dipandang negatif oleh beberapa orang karena dianggap mengancam keamanan serta ekonomi masyarakat lokal.

Sudah menjadi rahasia umum jika kebanyakan imigran yang berasal dari Timur Tengah merupakan umat Islam yang sering dipandang negatif oleh masyarakat barat. Hal ini nampaknya juga berlaku di Eropa dimana Islam kerap dicitrakan sebagai agama yang kejam dan tidak memiliki toleransi. Oleh sebab itu, sering terjadi diskriminasi rasial terhadap umat Islam terutama yang merupakan seorang imigran.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan gerakan-gerakan kebencian terhadap imigran dan agama tertentu yang akhirnya semakin memperparah sentiment terhadap berbagai pihak. Bahkan, bukan tidak mungkin jika akan berkembang menjadi stigma yang bisa merugikan pihak-pihak tertentu dan berkembang menjadi konflik sosial yang berkepanjangan.

Tidak berbeda jauh dengan di luar negeri, sentiment keagamaan juga semakin berkembang di Indonesia. Jika kalian mencari di internet maka kalian bisa menemukan berbagai akun bernuansa keagamaan baik yang cenderung anarkis maupun yang tidak. Hal ini semakin menambah sentimen keagamaan di media sosial yang berpotensi terbawa ke kehidupan nyata.

Sayangnya meski hal tersebut membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara, sentimen tersebut cukup sulit dihentikan mengingat gerakannya cukup aktif dan terkadang melibatan masa yang cukup besar. Tidak hanya itu, konflik seputar agama biasanya juga akan diikuti oleh berbagai ujaran kebencian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Akibatnya, kondisi masyarakat semakin tidak terkontrol sehingga berpotensi membuat kerusakan yang cukup besar.

Untungnya, beberapa bulan belakangan ini masyarakat Indonesia khususnya kaum muda mulai berpikir dengan lebih kritis sehingga tidak mudah terprovokasi isu-isu seputar agama. Meskipun jumlahnya belum terlalu besar tapi seiring waktu jumlahnya bisa meningkat dengan pesat. Semoga saja dengan begitu berbagai konflik keagamaan bisa diminimalis.